OLEH OLEH BCLS – ACLS DARI SINGAPURA

IMPROVEMENT BCLS-ACLS DI INDONESIA

IMG_20150129_173435IMG_20150130_090415

Alhamdulillah kami ber – delapan diberi Amanah oleh RSU ‘Aisyiyah Ponorogo bersama 50 orang dari Perwakilan RS Muhammadiyah/’Aisyiyah Jawa Timur mengikuti Pelatihan Trainer ke RS Tan Tock Seng Hospital dari tanggal 27 Januari – 31 Januari 2015. Program ini merupakan kerjasama antara PWM Jawa Timur dengan Temasek Foundation dan RS Tan Tock Seng Hospital.

Kesan Pertama sampai di Singapore: hebat ….hebat karena kotanya besar, bersih, rapi, penuh dengan fasilitas public, ada monorel, MRT, Bus, Taxi, mobil pribadi.

Hari Pertama Pelatihan kami tanpa sarapan di Hotel ….karena Jam 07.00 tet harus berangkat. Kebiasaan kita di Indonesia kalo jam 07.00 sudah kelihatan matahari tetapi disana jam 07.00 masih gelap jadi terpaksa tidak sarapan.

Setelah sampai di Tempat Pelatihan kami diterima dengan baik, pada acara pembukaan kita diberi suguhan berupa lagu laskar pelangi dan bengawan solo, so suasana menjadi ramai dan gembira. Trainernya friendly dan pelatihan dalam suasana funny betul, walaupun ada kendala Bahasa.

Habis demonstrasi kita langsung ujian, dag dig dug jadinya karena rata rata kita di Indonesia melatih tetapi disana harus dilatih dan diuji.. termasuk temen temen yang dari Jogjakarta. Dan Alhamdulillah kita sukses semuanya. Dah ya ceritanya ganti ke Materi ……..

 

Materi Pelatihan Trainer BCLS di Singapura:

  1. Adult CPR
  2. Infant CPR
  3. Adult FBAO
  4. Infant FBAO
  5. AED

 

Peserta Pelatihan dari RSU ‘Aisyiyah Ponorogo:

  1. Wino Asep Hardianto
  2. Sri Wahyuni
  3. Heriyanto, S.Kep.,Ns
  4. Bakin, S.Kep.,Ns
  5. Prima Iswahyudi, AMK
  6. Endro Widagdo, AMK
  7. Titis Sukma Sistria Palupi, AMK
  8. Suprayitno, AMK

SDC15749IMG_20150128_182106

Catatan: Orang Singapura jalannya cepat, ngomongnya cepat, kerjanya cepat, makannya cepat, naik kendaraan juga cepat.

 

PENTINGNYA PELATIHAN BCLS BAGI TENAGA KESEHATAN DAN MASYARAKAT

 

CHAIN

Permasalahan di Indonesia / di Ponorogo:

  1. Early Access menjadi permasalahan karena masyarakat belum teredukasi terkait kegawatan jantung, dan masyarakat tidak tahu kemana dia harus call / meminta pertolongan dengan cepat. Apakah masyarakat sudah tahu nomor AGD RSU ‘Aisyiyah Ponorogo?
  2. Early CPR, kasus kegawatan jantung / cardiac arrest banyak terjadi dimasyarakat pertolongan pertama yang diberikan sangat menentukan hasil selanjutnya karena jika organ tidak mendapatkan oksigen dalam 4-6 menit dapat terjadi kematian jaringan yang irreversible. Permasalahannya lagi masyarakat di Indonesia belum teredukasi tentang pelatihan BCLS sehingga banyak kejadian pasien dibawa ke RS sudah meninggal.
  3. Early Defibrilation, setelah pasien ditolong dengan CPR tentunya diteruskan dengan penggunaan defibrillation, AHA merekomendasikan penggunaan AED diluar RS. Automatic External Defibrilator merupakan alat yang secara automatis akan melakukan analisis terhadap korban apakah perlu di Shock atau tidak. Di Singapura ditempat tempat umum telah dilengkapi dengan AED dan masyarakat telah dilatih. Bagaimana dengan ditempat kita? …………

Di tempat kita fasilitas AED belum ada di area public (kelihatannya hanya ada di Bandara Internasional seperti Juanda), tentunya ini menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan Pemerintah. RS juga mempunyai kewajiban untuk mengadakannya terutama di Ambulance RS. Bersama teman – teman ada guyonan: Apa bedanya “Ambulance RS dengan Angkodes”?. Malu ah….

 

Dari Permasalahan tadi dibutuhkan investasi yang tidak sedikit makanya tujuan diadakannya pelatihan diatas adalah untuk ikut mengatasi sebagian permasalahan permasalahan yang sedang terjadi di Indonesia khususnya di Ponorogo.

 Lalu apa yang harus kita lakukan?

Sudah jelas jawabannya:

  1. Suport Pelatihan BCLS dan training of trainer, dan bentuk jaringan lintas sektor
  2. Latih ….latih ….dan latih secara continue untuk Healthcare dan Masyarakat
  3. Penuhi Fasilitas RS yang terkait Chain of Survival.
  4. Kalo perlu buat proposal ke TEMASEK Foundation atau ke Foundation lain.

 Lalu apa yang harus kita lakukan?

Sudah jelas jawabannya:

  1. Suport Pelatihan BCLS dan training of trainer, dan bentuk jaringan lintas sektor
  2. Latih ….latih ….dan latih secara continue untuk Healthcare dan Masyarakat
  3. Penuhi Fasilitas RS yang terkait Chain of Survival.
  4. Kalo perlu buat proposal ke TEMASEK Foundation atau ke Foundation lain.

Leave a Reply